Tampilkan postingan dengan label Seputar Desa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Desa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Maret 2013

Ditemukan Makam Islam Kuno Peninggalan Kerajaan Demak

KUDUS - Setelah beberapa hari lalu ditemukan sebanyak tiga buah makam kuno dengan bentuk yang masih sempurna, kemarin (12/8), Disbudpar kembali menemukan sebanyak 9 makam lagi, sehingga totalnya berjumlah 12 makam kuno.
Kepala Disbudpar Kudus, Hadi Sucipto melalui Kasi Rahmuskala, Sancaka Dwi Supani saat ditemui di lokasi makam, kemarin, menuturkan, pihaknya langsung melakukan penelusuran terhadap lokasi di sekitarnya setelah mengetahui adanya penemuan 3 makam kuno di Dukuh Kiringan, Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati.

"Setelah kami cek hari ini (Kemarin-Red), ternyata ditemukan lagi makam yang sama di sekitarnya berjumlah kurang lebih 8 buah, namun bentuknya tidak sesempurna seperti penemuan awal," ujarnya.


Selain penemuan makam, pihaknya juga menemukan serpihan keramik seperti cangkir, yang diperkirakan pada abad ke-15. "Kami memperkirakan makam tersebut berasal dari abad 15, hal itu diperkuat dari penemuan serpihan keramik yang sama dengan penemuan lain di abad 15. Selain itu, batu bata yang digunakan juga sama dengan abad tersebut, seperti batu bata di Menara Kudus," jelasnya.

Rencananya, dalam waktu dekat ini, pihaknya akan mendatangkan Balar (balai arkeologi) Jogjakarta untuk meneliti keberadaan makam muslim kuno tersebut. "Kami juga memperkirakan makam tersebut merupakan makam muslim kuno. Di mana letak makamnya menghadap ke kiblat. Selain itu, bentuk makamnya hampir sama dengan makam-makam muslim pada zaman dahulu," bebernya.

Setelah ada penemuan itu, lanjutnya, pihaknya akan meminta masyarakat, khususnya pemilik tanah untuk tidak menggali lagi di lokasi tersebut, serta menjaganya karena merupakan benda cagar budaya yang harus dilindungi oleh Pemerintah. "Kami belum tahu pasti kapan Balar akan datang, namun, yang jelas dalam waktu dekat ini. Karena kemarin (Rabu, 11/8) mereka sudah bersedia untuk datang," ungkapnya.

Pihaknya juga akan memberikan sosialisasi terhadap warga setempat agar situs tersebut bisa diamankan dan dijaga secara bersama-sama, agar tidak dirusak atau dibuat yang macam-macam. "Kebanyakan makamnya mempunyai ketinggian hingga 1 meter dengan lebar sepanjang 2 meter," ungkapnya.

Sedangkan untuk siapa yang berada di makam tersebut, Supani belum bisa menjawabnya. "Kami masih terus meneliti secara detail tentang penemuan ini," jelasnya. (Addin & Shaumi)




Sumur Gentong Loram Memprihatinkan

Keadaan situs Sumur Gentong yang terletak di Dusun Dosaran Desa Loram Wetan RT 05 RW 05 Kecamatan Jati Kabupaten Kudus sungguh sangat memprihatinkan. Situs Sumur Gentong yang sudah didaftarkan sebagai Benda Cagar Budaya ini kondisinya sudah rusak berat. Padahal keberadaan situs ini dilindungi oleh Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Butuh keseriusan pihak instansi pemerintah terkait untuk peduli akan keberadaan situs Sumur Gentong ini. Karena bagi masyarakat Desa Loram Wetan, keberadaan situs ini sudah dianggap sebagai bagian dari sejarah yang harus diketahui oleh masyarakat sekitar Kudus.
 
 
 

Jumat, 08 Maret 2013

Tradisi "Ampyang" Warnai Peringatan Maulud Nabi

Kudus (RW05_LoramWetan) - Warga Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Kamis, memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan menggelar tradisi "Ampyang" Maulid.

Tradisi "ampyang" yang biasa dikenal oleh warga setempat merupakan tradisi memperingati hari kelahiran Nabi dengan menyajikan makanan yang dihiasi dengan "ampyang" atau krupuk yang diarak keliling desa, sebelum menuju ke Masjid Wali At Taqwa di desa setempat.

Ratusan warga terlihat memadati jalan di sepanjang jalan rute kirab yang hendak menyaksikan rombongan kirab tradisi "ampyang" yang diikuti berbagai institusi dan lembaga pendidikan, musala, organisasi masyarakat dan kelompok usaha.  

Masing-masing peserta, menampilkan sejumlah kesenian, seperti visualisasi tokoh-tokoh yang berjasa pada saat berdirinya Desa Loram Kulon serta visualisasi sejarah pendirian Masjid Wali At Taqwa.

Setelah sampai di Masjid Wali, tandu yang berisi nasi bungkus, ingkung serta hasil bumi yang sebelumnya diarak keliling desa didoakan oleh ulama setempat, kemudian dibagikan kepada warga setempat untuk mendapatkan berkah.

Ketua panitia tradisi "Ampyang" Maulid, Anis Aminudin mengatakan, tradisi "ampyang" maulid merupakan tradisi turun temurun yang tetap dilestarikan oleh warga sekitar. 

Adapun jumlah peserta kirab, katanya, mencapai 40-an rombongan.

Selain kirab keliling, tradisi tersebut juga turut menampilkan "Loram Expo" dan pentas seni.


Produk-produk unggulan dari Desa Loram Kulon, seperti konveksi, kerajinan tangan dan suku cadang motor antik dan mesin disel.

Jumlah peserta pameran, katanya, cukup banyak.

Dengan adanya tradisi seperti ini, dia berharap, masyarakat dapat mengingat dan instropeksi diri serta berperilaku yang mencerminkan sifat-sifat yang dimiliki Nabi Muhammad.

Selain itu, dia berharap, para pemuda juga ikut melestarikan budaya turun menurun tersebut.

"Mudah-mudahan, perekonomian masyarakat Desa Loram Kulon dan Desa Loram Wetan dapat ikut meningkat dengan diperkenalkannya kedua desa itu lewat tradisi `Ampyang Maulid`," ujarnya.

Sementara itu, Bupati Kudus Musthofa berharap, masyarakat sekitar tetap menjaga tradisi "ampyang" maulid ini agar tetap lestari.

"Nilai-nilai keluhuran tradisi ini jangan sampai luntur oleh perkembangan zaman," ujarnya.

Setiap tradisi lokal yang ada, katanya, harus dikembangkan menjadi potensi keunggulan masing-masing wilayah.
Untuk itu, kata dia, semua pihak dituntut untuk kerja keras guna mengangkat budaya lokal masing-masing daerah.