Sabtu, 09 Maret 2013

Kerja Bakti sebagai Sarana Bersosialisasi

Kehidupan manusia sangat kompleks, begitu pula hubungan yang terjadi pada manusia sangatlah luas. Hubungan tersebut dapat terjadi antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan makhluk hidup yang ada di alam, dan manusia dengan Sang Pencipta. Hubungan manusia antar manusia dapat membentuk suatu kebudayaan. Kebudayaan yang sangat kental di Indonesia yang berhubungan dengan manusia sebagai makhluk budaya yaitu kerja bakti.

Indonesia yang terkenal dengan keramahan rakyatnya dan sangat menyukai gotong royong tercemin pada kegiatan ini. Kerja bakti telah menjadi kebudayaan di Indonesia. Tradisi yang sudah diterapkan sejak nenek moyang kita itu selalu menjadi elemen penting dalam pembangunan serta menjadi salah satu hal yang bisa dibanggakan di negeri ini.

Kerja bakti mempunyai arti penting di masyarkat. Jika kita perhatikan suasana kerja bakti penuh dengan kekeluargaan. Tidak ada rasa saling iri atau bahkan merasa tertekan dalam melakukan pekerjaan, karena semuanya dilandasi dengan rasa senang dan penuh dengan suasana kekeluargaan.

Mengingat di tengah fenomena masyarakat yang cenderung individualistik seperti sekarang ini mereka masih bersedia menyisihkan waktu untuk kepentingan masyarakat, itu yang terjadi di tempat tinggal aku dimana warga saling bahu membahu dalam merapikan jalan swadaya agar terlihat rapi dan nyaman untuk di lalui.
 Keadaan ini mungkin saja berbeda di kota-kota besar, di mana semangat untuk bergotong-royong sudah mulai luntur. Bahkan, ketika parit-parit mereka kotor, cukup dengan uang, mereka memilih menyewa pekerja. Hal seperti itu, bisa jadi mengurangi nilai estetika. Dan yang perlu diingat, tidak segalanya bisa dibeli dengan uang. Jika rakyat Indonesia mau menyadari, meski sering disepelekan, kerja bakti tetap penting untuk terus dilestarikan.

Kita dapat merasakan indahnya suasana kekeluargaan dan gotong royang pada kegiatan ini. Rasa persatuan dan kesatuan bangsa akan luntur dan bangsa Indonesia pun akan kehilangan budayanya yang selama ini diagung-agungkan dan menjadi kebanggaan. Oleh karena itu kita perlu mengingat pentingnya pengaruh kerja bakti terhadap kelangsungan bangsa Indonesia.

Jumat, 08 Maret 2013

Tradisi "Ampyang" Warnai Peringatan Maulud Nabi

Kudus (RW05_LoramWetan) - Warga Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Kamis, memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan menggelar tradisi "Ampyang" Maulid.

Tradisi "ampyang" yang biasa dikenal oleh warga setempat merupakan tradisi memperingati hari kelahiran Nabi dengan menyajikan makanan yang dihiasi dengan "ampyang" atau krupuk yang diarak keliling desa, sebelum menuju ke Masjid Wali At Taqwa di desa setempat.

Ratusan warga terlihat memadati jalan di sepanjang jalan rute kirab yang hendak menyaksikan rombongan kirab tradisi "ampyang" yang diikuti berbagai institusi dan lembaga pendidikan, musala, organisasi masyarakat dan kelompok usaha.  

Masing-masing peserta, menampilkan sejumlah kesenian, seperti visualisasi tokoh-tokoh yang berjasa pada saat berdirinya Desa Loram Kulon serta visualisasi sejarah pendirian Masjid Wali At Taqwa.

Setelah sampai di Masjid Wali, tandu yang berisi nasi bungkus, ingkung serta hasil bumi yang sebelumnya diarak keliling desa didoakan oleh ulama setempat, kemudian dibagikan kepada warga setempat untuk mendapatkan berkah.

Ketua panitia tradisi "Ampyang" Maulid, Anis Aminudin mengatakan, tradisi "ampyang" maulid merupakan tradisi turun temurun yang tetap dilestarikan oleh warga sekitar. 

Adapun jumlah peserta kirab, katanya, mencapai 40-an rombongan.

Selain kirab keliling, tradisi tersebut juga turut menampilkan "Loram Expo" dan pentas seni.


Produk-produk unggulan dari Desa Loram Kulon, seperti konveksi, kerajinan tangan dan suku cadang motor antik dan mesin disel.

Jumlah peserta pameran, katanya, cukup banyak.

Dengan adanya tradisi seperti ini, dia berharap, masyarakat dapat mengingat dan instropeksi diri serta berperilaku yang mencerminkan sifat-sifat yang dimiliki Nabi Muhammad.

Selain itu, dia berharap, para pemuda juga ikut melestarikan budaya turun menurun tersebut.

"Mudah-mudahan, perekonomian masyarakat Desa Loram Kulon dan Desa Loram Wetan dapat ikut meningkat dengan diperkenalkannya kedua desa itu lewat tradisi `Ampyang Maulid`," ujarnya.

Sementara itu, Bupati Kudus Musthofa berharap, masyarakat sekitar tetap menjaga tradisi "ampyang" maulid ini agar tetap lestari.

"Nilai-nilai keluhuran tradisi ini jangan sampai luntur oleh perkembangan zaman," ujarnya.

Setiap tradisi lokal yang ada, katanya, harus dikembangkan menjadi potensi keunggulan masing-masing wilayah.
Untuk itu, kata dia, semua pihak dituntut untuk kerja keras guna mengangkat budaya lokal masing-masing daerah.